Aku dan Menulis

Beberapa waktu yang lalu, aku hampir tidak pernah menulis lagi.

Ada perih di ujung jemariku, yang mengikat ia untuk bergerak-gerik lentik seperti sedia kala.

Dihujam kata perih tak bersahabat di telinga. Tentang rangkai kataku yang tak pantas dimata para pembaca.

Seperti pena dan kertas putih, seperti penulis dan pembaca cerita. Apa gunaku menulis tanpa si Pembaca? Pikirku dulu, hingga hati menampar keras logika tak berdasar itu.

Aku lupa membalik pertanyaannya.

“Apa yang akan mereka baca, jika si penulis berhenti membagikan ceritanya?”

Aku memikirkan diriku sendiri. Memikirkan luka dari mereka yang tidak suka, tapi menepikan perhatian dari pembaca setia yang menerimaku apa adanya.

Kini aku putuskan kembali menulis lagi.

Usah kupikirkan apa yang membuatku berhenti. Karena melangkah, adalah satu-satunya cara untuk maju. Karena menulis, satu-satunya cara yang aku mampu untuk membagikan kisahku, kepada mereka yang menerima apa adanya aku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s