Sekarang kamu duduk sendiri,  bukan karena tidak ada orang di sekelilingmu, tapi kamu sengaja menyendiri, mengasingkan diri dari ramai orang yang saling bicara, bercanda sambil tertawa bersama-sama. Kamu duduk sendiri, merapatkan  kelopak matamu serapat-rapatnya, sampai kau melupakan efek kerut yang mungkin akan timbul setelahnya. Kau tempelkan dahimu pada kedua lututmu yang saling bertemu, sampai kau mengunci pertemuannyanya dengan pelukan eratmu pada kaki-kakimu yang tentu bertemu juga. Kamu menangis. semua seperti menjadi  bisu ketika tetes demi tetes air mata itu keluar dari sela-sela kelopak mata yang sudah coba kau tutup rapat. Kau pasti menganggap bahwa seluruh dunia akan memojokkanmu ketika itu. saat dimana kamu menganggap tidak ada yang bisa lagi kamu lakukan selain membiarkan air matamu bercucuran dengan leluasa. Disaat itu terjadi kepadamu, bisakah kamu mengingat tulisan ini? Maksudku, kata demi kata yang akan aku rangkai di bawah ini.

—–

Dear kamu.

Semua orang pernah berbuat salah. Sesalah-salahnya kamu sekarang ini, percayalah bahwa di satu sisi dunia, pernah ada seseorang  yang berbuat kesalahan yang sama. Maka jangan merasa kalau kamu sendiri. Tidak, kamu punya dia. Jika tak ingin terlalu jauh, kamu juga punya aku. Jika aku tidak menjadi orang yang akan membuatmu nyaman, maka pasti kamu masih punya setidak-tidaknya satu orang untuk mengadu. Jika pun tetap tidak ada. Kamu percaya Tuhan kan? Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengadulah dengannya. Mengadulah sejujur-jujurnya. Luapkan segala gelisah dan kecewa yang sudah berhasil membendung air matamu hingga menjadikannya jatuh deras di pipimu saat ini. Jangan malu. Kamu mungkin terbiasa tampil tegar dan menawan di luaran sana, tapi tidak masalah jika sesekali kamu meluapkan gundahmu dengan berubah menjadi sesosok yang berbeda. Menangis itu tidak salah. Sesekali, seseorang memang membutuhkannya. Menagislah.

Jika menangismu telah selesai, sekarang tarik nafasmu dalam-dalam, dan mulailah menulis. Tuliskan hal-hal yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki kesalahanmu sedikit demi sedikit. Segala hal yang masih bisa diperbaiki, maka solusinya adalah dengan usahamu yang sungguh-sungguh. Jika beberapa hal yang terjadi tidak dapat lagi diperbaiki, maka satu-satunya solusi adalah mengiklaskannya. Penerimaanmu seikhlas-ikhlasnya kepada yang telah terjadi adalah satu-satunya solusi terbaik yang aku sarankan. Kamu hanya perlu merubah hal-hal yang dulunya menjadi bibit bagi kesalahan yang kamu lakukan. Kerjakanlah perlahan, namun terus-menerus kamu lakukan. Aku yakin, jika kamu sungguh-sungguh ingin mengubah semuanya menjadi lebih baik, walaupun tidak mudah, kamu pasti bisa melakukannya dengan tuntas.

Aku tidak melarangmu menangis, tapi aku hanya tidak kuasa melihatmu bersedih. Maka berjuanglah. Aku percaya kamu ditakdirkan untuk menjadi manusia kuat, maka ini terjadi kepadamu bukan kepada orang lain. Menangislah, kemudian segeralah bangkit dan berbahagia.

Advertisements

One thought on “Kamu, Manusia Kuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s