Aku sudah menyimpan  cerita ini cukup lama. Cerita yang hanya aku ceritakan kepada seorang  pendengar saja. Tapi, karena iseng merekam pembicaraanku dengan orang itu, terlintaslah pikiran untuk menuliskannya di sini. Aku berharap dengan begitu, akan semakin banyak orang yang tahu, sehingga semakin banyak orang yang bisa belajar. Tidak hanya aku dan pendengar ceritaku, tapi juga para pembaca blog ini sekalian.

Ini adalah cerita tentang sebuah perjalanan anak muda. Dari kota Palu menuju Jogjakarta disusul Semarang, Pekalongan dan Jakarta. Perjalanan yang baginya bukan  hanya sekadar sebuah perjalanan saja.  Tapi juga  adalah sebuah pembelajaran berharga.

Aku masih ingat betul, bagaimana gadis itu menangis ketika satu minggu sebelum berangkat dia mencoba untuk meminta izin dari orang tua, tapi tidak dia dapatkan. Argumen-argumennya tidak diterima dengan baik. Ada-ada saja pembelaan yang dia keluarkan, tapi malah lebih banyak kata penangkis yang dikeluarkan oleh sepasang Ibu dan Ayahnya untuk membiarkannya tetap tinggal.

Air mata gadis itu memang terus belinang dan menghias di pipinya yang “tembem”. Namun dia tidak bisa diam. Segala sesuatu yang ditugaskan oleh penyelenggara kegiatan yang akan diikutinya selama 10 hari dari Jogjakarta-Jakarta dilengkapinya dengan baik. Hingga dua hari sebelum tiket keberangkatan Palu-Surabaya yang sudah terlanjur ia beli itu hangus, dia kembali memohon izin untuk berangkat. Kali ini, hati orang tuanya memamng menjadi sedikit lunak. Masih dengan air mata dan suara yang bergetar, sang gadis meminta untuk diizinkan pergi. Akhirnya, orang tuanyapun mengizinkan dengan berbagai persyaratan untuk dia penuhi. Sebenarnya, bukan karena kegiatan yang akan diikuti oleh sang gadis itu tidak penting. Melainkan karena ada satu tanggung jawab yang belum diselesaikan oleh sang gadis, yakni menyelesaikan tugas akhirnya. Maka ia berjanji untuk menyelesaikan urusan itu segera setelah ia kembali dari kegiatan yang diikutinya. Alhamdulillah, ketika tulisan ini diterbitkan, sang gadis sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Predikat sebagai seorang sarjana sudah melekat pada dirinya sekarang.

Mengapa gadis ini tetap bersikeras ingin pergi meski awalnya ditentang?

Ada nilai-nilai kebaikan di kegiatan ini yang sangat ingin dia pelajari. Nilai-nilai kebaikan itu tergambar dari cerita-cerita yang dibagikan oleh para alumninya melalui website resmi dari gerakan yang menyelanggarakan kegiatan. Ia juga akan merasa sangat bersalah dengan air mata lain yang mungkin saja berjatuhan dari sekitar 600 pasang mata setelah dinyatakan tidak lolos untuk mengikuti kegiatan, jika sampai dia tidak datang. Mungkin tidak hanya mereka, tapi juga sahabat-sahabat yang telah memberikan berbagai dukungan kepadanya. Mereka-mereka yang memberikan bantuan baik itu pikiran maupun tenaga.

Lalu, mengapa dia ingin mempelajari nilai-nilai kebaikan itu? apakah dia merasa kurang bisa berbuat baik?

Iya. Dia merasa begitu. Dia merasa butuh bertemu dengan banyak orang yang telah melakukan perubahan di daerah asal masing-masing, untuk belajar banyak hal. Untuk bercermin melihat dirinya sendiri, menilai apa sebenarnya yang telah ia lakukan. Apakah selama ini ia memang telah berbuat sesuatu atau hanya bersembunyi dibalik sudut pandang kamera saja? Ia juga ingin tau, apakah selama ini yang dilakukan  pada posisi di pekerjaannya sekarang benar atau tidak.

Dia juga ingin mengenal beragam karakter teman yang akan dia temui dari ujung Indonesia paling barat hingga di ujung paling timur. Ia ingin tau, apakah dia bisa menjadi dirinya sendiri di tengah keberagaman itu? ataukah berubah menjadi orang lain demi penerimaan dirinya?

Semua itu yang ingin  dia pelajari dan telah berhasil terjawab pada kegiatan yang dia ikuti. Akan aku ceritan semuanya secara bertahap. Tetaplah setia membaca di sini.

Advertisements

2 thoughts on “Kisah Adventure Seorang Gadis

  1. Saat kami pandang dari kejauhan, banyak terlihat para pelajar yang selalu di barisan depan ketika aksi di jalanan, banyak pemuda yang sampai presiden pun mengenalnya karena prestasi di kampus.
    Akan tetapi sayang nya ketika kami tanya tentang bagai mana kehidupan di lingkungan tempat orang tuanya tinggal, tempat asalnya? kebanyakan juga menggelengkan kepala.
    Ahirnya kehebatannya habis di kampus saja, setelah turun ke masyarakat dia tidak tau apa-apa dan hanya memikirkan diri-sendiri. Hebat dikampus, semoga di masyarakat lebih berguna.
    Sebaik-baik manusia adalah yang banyak memberi mamfaat untuk manusia lain nya. Tuhan tidak pernah sia-sia atas itu.
    Semoga kamu sukses ya,.!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s