Duduk di tepi pantai selalu berhasil membuatku menghayati kesendirian di tengah keramaian.

Sendiri dan tenang, sembari menutup mata merasakan tamparan demi tamparan yang di hempaskan angin ke wajahku, berteman dengan desiran ombak bersama iramanya yang lembut, sambil mendengar berisik tanya yang menggerutu dari lorong hati.

 “Bagaimana kabarnya hari ini?”

Pertanyaan itu hampir datang setiap hari. Sejak kamu menjadi bayang-bayang yang mengganggu tentram hatiku. Menganggu kemesraanku dengan Tuhan di pertengahan malam. Mengganggu dan merapuhkan dinding yang telah ku jaga bertahun-tahun. Dinding pemisah antara aku dan orang-orang selain mahramku.

Jangan salah paham. Sama sekali, aku tak menyalahkanmu karena itu. Aku malah bersyukur. Karena dengan semua itu aku menjadi tahu, bahwa selama ini aku masih terlalu rapuh. Cintaku pada Maha Cinta masih teralu kecil. Sehingga, sekali lagi aku menjadi tahu, banyak hal yang masih harus aku lakukan. Semisal menyibukkan diriku dengan hal-hal yang baik. Belajar dan bekerja sehingga waktuku habis untuk segala hal yang berguna. Meng-agendakan segala kegiatan setiap hari hingga waktuku bisa kugunakan seproduktif mungkin.

Seperti itu. Hingga tiba saat dimana memikirkanmu tidak lagi menjadi terlarang untuk dilakukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s