Izinkan aku bercerita tentang rindu.
Tentang rasa dilema sebuah keputusan yang mereka sebut dengan “menunggu”.
Tentang keyakinan yang melenyapkan garis panjang terbentang yang ku sebut “jarak”.
Dari kesimpulan yang kau ambil atas curhat panjangmu kepada Tuhan, yang kau sebut “doa”.

Aku sedang berbicara tentang rindu. Rasa yang mengawang di atas langit-langit, sepanjang ribuan kilometer dari posisiku hingga posisimu.
Dengan kata yang telah ku rangkai ini, aku bercerita tentang rindu.
Cerita yang mengepulkan makna tanpa rupa, cerita yang mengatur baris kata tanpa suara. Cerita seperti itu. Cerita yang tak bisa kau dengarkan, tapi aku berharap, bisa kau rasakan.

Mau eksis di blog juga?
Kalian bisa pesan mentor menulis dan  SEO di banuamentor.com

Berbagai alasan selalu bermunculan ketika hanya sekedar ingin menyapamu, ingin mengetahui kabarmu, mendengarkan kisahmu. Salah satu pemicu alasan itu adalah sebuah tanya yang seketika muncul tepat sesaat ketika jemari akan memulai memainkan tombol-tombol pada layar handphone ini, Kalimat seperti apa yang harusnya ku rangkai untuk itu? Kalimat yang pantas, terlihat natural, sebagaimana saat aku menyapa teman-teman lainnya. Begitukah?

Ada saja rantai yang mencegahku, walau itu hanya sekedar menyapamu. Salah satunya adalah keyakinanku sendiri. Keyakinan itu telah mengajarkanku, bahwa ujian terberat dari kaummu, dialah kaumku. Oleh karena itu, aku tidak ingin menyusahkanmu, tidak ingin menjadi sebab bagi berkurangnya keberkahan dalam hidupmu.

Tidak saling sapa, bukan berarti tidak ada rasa kan? Sungguh besar harapanku bagi pengertianmu tentang hal ini. Tentang rasa rindu ini.

Baca juga : Kepadamu yang Kelak Akan Menjadi Ayah dari Anak-Anakku

Jika rasa rindu yang menggema ini ternyata juga kau rasakan dalam hatimu, bisakah kau berjanji padaku? Ungkapkanlah segala kerinduan itu pada pencipta kita. Setidaknya, jika raga kita tak bertemu, biarkan doa yang lahir dari rasa rindu kita yang menyatu. Entah bagaimana akhirnya nanti, Sang Pencipta lebih mengerti apa yang menjadi terbaik bagi perjalan kehidupan kita.
.
.
.
Sampai nanti ya. Sampai bertemu di masa depan. Masa depan kita masing-masing, ataupun masa depan kita bersama-sama. Kita saksikan saja, bagaimana waktu bercerita tentang keberkahan hidupku, hidupmu, atau hidup kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s