Sudah tiga jam berlalu sejak aku meminta izin untuk istirahat. Mataku masih belum bisa terpejam, samar-samar sketsa wajahmu beradu dengan kantukku. Aku kembali terduduk, beralih posisi lagi. Telapak tangan dan kakiku masih terasa sedikit kelu. Besok, semua jawaban dari doa-doa kita akhirnya tiba. Tapi, mengapa masih ada sisa sendu yang membayang di dasar dada? Apakah ada ikhlas yang masih tertinggal di sana?

Pikiran ini membuatku tertegun oleh perasaan yang tak menentu. Aku, kembali teringat saat pertama kali bertemu denganmu, masa dimana kisah kita akhirnya dimulai. Kisah yang tak semestinya ada diantara sederatan sejarah kisah kita.

Benarlah jika Islam mengajarkan bahwa tidak ada hubungan yang halal dalam bentuk apapun diantara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Namun kemudian, aku menepis aturan itu. Egoisku mengatakan, bahwa aku paham segala hal, apapun yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Ku tepis dahi hingga rambut di atas ubun-ubunku. “Ah, bagaimana mungkin aku bisa sok pintar seperti itu bahkan dengan Tuhanku sendiri?”.

Tidak butuh waktu lama untuk mengenalmu hingga aku merasa bahwa kamu adalah wanita yang istimewa. Tidak sama seperti saat aku berhadapan dengan lainnya, seakan ada magnet besar di dalam dirimu. Parasmu yang cantik, sikapmu yang anggun, serta alunan suaramu yang lembut, memaksa nuraniku untuk selalu berada di dekatmu. Kamu terlihat lebih sempurna dengan gaunmu yang tertutup. Tata warna busanamu yang teratur, dilengkapi dengan senyummu yang selalu merekah menambah pesonamu yang seakan tak berkesudahan.

Baca juga :
Kepadamu yang Kelak Akan menjadi Ayah dari Anak-Anakku

Di saat itu, aku dengan sok gagahnya, menyatakan niatku untuk menjadi bagian bagi senyuman-senyuman indahmu selanjutnya. Meskipun untuk merealisasikannya, aku harus menentang syari’at, dengan menjadikanmu kekasihku. Aku paham benar, bagaimana para aktivis dakwah menyemarakkan penggalan ayat “Janganlah kamu mendekati zina”. Terutama bagi kita yang pada saat itu adalah mahasiswa dan mahasiswi baru. Namun sekali lagi, sosokku yang merasa lebih tahu segala hal menyepelekan “peringatan” itu. Hingga akhirnya kita, aku dan kamu menyatu dalam sebuah hubungan yang lebih dikenal dengan istilah “pacaran”, istilah yang seharusnya tidak pernah melekat bagi kita berdua.

Aku memang bersungguh-sungguh ketika memintamu untuk menjadi kekasihku ketika itu. Tak ada lagi yang lebih baik dipandanganku selain kamu. Aku bahkan telah menyusun rencana jangka panjang bagi kehidupan kita di masa depan. Aku, selalu berkata kepadamu, bahwa hanya engkaulah wanita yang paling pantas menjadi ibu bagi keturunanku. Akupun tak pernah lepas mengingatkanmu, bahwa aku akan selalu berusaha menjadi sebab bagi setiap senyuman di wajahmu. Aku juga akan selalu bertanggung jawab, pada setiap tetes air mata yang membasahi wajah cantikmu.

Sejak bersama denganmu, aku selalu berusaha agar setiap momen mampu menjadi kenangan indah yang sulit terlupakan. Bahkan hingga sekarang, masih jelas tergambarkan dipikiranku bagaimana aku yang setiap tahunnya menyambut ulang tahunmu dengan semangat yang membara. Aku tak pernah bosan memberikanmu kejutan, menyiapkan semua hadiah, bahkan mengingatkan satu per satu teman kita untuk mengucapkan selamat atau bahkan bergabung dalam misi memberikan kejutan di rumahmu tepat tengah malam. Semua lelahku itu selalu terbayar dengan merekahnya senyummu. Kenangan itu, kamu juga masih ingat kan?

Tiga tahun cerita kita bersama berlalu sangat manis. Hingga tiba tahun ke empat, sekaligus menjadi tahun terakhir kita di kampus, yang penuh dengan ranjau bagi hubungan kita berdua. Jika sebelumnya, segala perbedaan itu mampu menjadi pemanis bagi kebersamaan kita, entah mengapa, disaat itu perbedaan kecil seakan menjadi bom besar yang mampu membuat perdebadatan panjang kita. Selama bertahun bersamamu, kita bahkan tak pernah seharipun tidak berkomunikasi bahkan jika itu hanya melalui handphone saat ada kegiatan kampus di luar kota. Namun, apa yang terjadi padaku? Atau pada kita? Aku kemudian bahkan merasa bahwa hal itu adalah sesuatu yang biasa saja.

Mungkin kamu juga ingin  membaca :
Masihkah Engkau Menunggu?

Barangkali aku tak pernah menyatakan ini pada siapapun. Tapi tahukah kamu? Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa selama bersamamu, aku hanya akan mendatangkan senyuman bagimu, karena setiap tetes yang kau keluarkan dari matamu, berarti kegagalan bagiku. Namun apa yang harus aku perbuat jika memang ternyata takdir berkata sebaliknya? Apa yang harus aku perbuat jika ternyata ke-sok-tahuanku malah menjadi bumerang bagi diriku sendiri pada akhirnya?

Jika diberikan kesempatan untuk bertemu denganmu saat ini juga, aku hanya ingin minta maaf. Jika perlu, aku akan mengganti semua tetes air matamu dengan apapun yang engkau mau. Tapi aku memohon, ikhlaskanlah hatimu melepasku, agar engkau bisa mendapatkan siapapun yang lebih baik dari diriku yang penuh salah ini.

Aku tidak pernah peduli dengan perkataan orang tentangku. Sejak memutuskan untuk diam-diam menjalin hubungan dengan Bunga di belakangmu, aku juga sudah sangat mengetahui dengan jelas dimana letak kesalahanku. Akupun sadar dengan sangat sadar bagaimana rasa penghianatan yang aku lakukan ini akan sangat membekas luka di hatimu. Namun satu hal yang perlu kau tau, sejak awal aku tidak pernah sedikitpun memunculkan niat untuk menyakitimu dalam bentuk apapun. Aku hanya bisa menyadari, bahwa aku adalah laki-laki yang lemah dalam pendirian. Aku tetap menyayangimu dengan niatan untuk menjagamu. Hanya saja, untuk kali ini, aku tidak bisa menghindari luka yang kau rasakan. Untuk kesekian kalinya, aku memohon. Memohon dengan sangat besar, tolonglah, maafkan aku.

Hadirnya Bunga di antara kita bukanlah kesalahanmu. Murni, itu adalah kesalahanku. Aku, yang ternyata mudah terpesona dengan yang lain selain dirimu. Bunga yang memang dari awal telah mengetahui hubungan kita, justru lebih bersi keras untuk dipertemukan denganmu. Aku sama sekali tidak membelanya, tetapi keberaniannya meminta izinmu untuk mengikhlaskanku agar bisa bersamanya, membuatku merasakan sesuatu yang luar biasa. Namun, aku juga tidak akan pernah berhenti mengagumi sosokmu. Kalimat terakhirmu sebagai penutup hubungan kita yang akan membekas seumur hidupku, “Sejak awal, hubungan kita memang sudah salah. Kita terlalu angkuh menyatakan diri tentang siapa jodoh kita. Sekarang yang maha Kuasa mendatangkan Bunga, sebagai jawaban untuk menumbuhkan kesadaran, bahwa tidak ada yang lebih kuasa dari Dia. Untuk itu, jangan meminta izinku. Aku tidak ingin, siapapun diantara kita menjadi sakit lagi, karena kesalahan yang sama”

Saran bacaan :
Se-Istiqamah Apakah Kamu?

Walau esok semua jawaban itu tiba, ternyata aku akan mengahalalkan Bunga, maka keadaan tak akan pernah mampu mengembalikan harapan kita yang dulu. Tetapi, aku masih beharap penuh, agar harapan-harapan baru yang lebih indah mampu tumbuh lebih baik. Terima kasih telah menjadi masa lalu yang indah. Semoga kamu akhirnya bertemu dengan orang yang tepat, yang mampu membawamu bagi kebahagiaan yang sebenarnya. Selamat. Selamat bagi jalan baru yang masing-masing kita tempuh. Semoga langkah kita ini, menjadi awal bagi keberkahan di masing-masing kehidupan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s